Breaking News

Melestarikan burung Maleo di Bone Bolango

Melestarikan burung Maleo di Bone Bolango

MajalahBerita24.com, Gorontalo  -- Burung Maleo adalah hewan endemik asli Sulawesi. Statusnya yang terancam punah membuat burung ini dilestarikan di Bone Bolango. Wisatawan bisa berkunjung ke sini.

Langkah serius Pemerintah Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo untuk mengelola ekowisata, terutama lokasi pelestarian burung Maleo (Macrocephalon maleo) sudah mulai nampak.

Bupati Bone Bolango, Hamim Pou mendatangi dan mengamati secara langsung perkembangan burung Maleo yang berada di Desa Hungayono, Kecamatan Suwawa yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone pada Senin (15/7) lalu.

Untuk menuju lokasi penangkaran habitat burung Maleo, traveler harus berjalan kaki selama satu jam dengan melewati beberapa sungai kecil dan tanjakan Gunung Hungayono.

Menurut Bupati Bone Bolango Hamim Pou, keistimewaan dari Taman Nasional Bogani Nani Wartabone adanya spesies hewan khas ekosistem Wallacea burung maleo yang habitatnya hanya hidup di Pulau Sulawesi.

"Kami alhamdulillah mengamati secara langsung cerita tentang Hungayono yang dikenal dengan lokasi burung Maleo dan 200 species lainnya. Seperti kita ketahui burung Maleo adalah satwa endemik yang ada di Sulawesi," kata Bupati Bone Bolango, Hamim Pou, Rabu (17/7/2019).


Melestarikan burung Maleo di Bone Bolango
(dok. Humas Bone Bolango)


Hamim menyatakan akan terus mengembangkan potensi alamnya. Masyarakat dan pemeriNtah daerah akan terus menjaga dan merawat dengan baik keberadaan burung maleo ini. Bahkan ada yang menyatakn satwa endemik ini juga tergolong hewan yang terancam punah.

"Burung Maleo ini adalah satwa endemik yang terancam punah maka dari itu lewat usaha dari kita semua alhamdulillah kita dapat mempertahankan populasinya dalam jumlah yang lumayan dan ini menjadi pedoman kita semua untuk terus peduli merawat dan menjaga keberadaan burung Maleo ini," jelas Hamim yang juga mantan wartawan ini.

Kedatangan bupati bersama Kepala Taman Nasional Supriyanto selain melihat langsung habitat burung Maleo juga mencanangkan paket wisata foster parent maleo di Hungayono.

Wisata alam Hungayono menjadi salah satu potensi wisata alam yang bakal menjadi salah satu landmark pariwisata Bone Bolango ke depan.

"Kita tidak hanya menyaksikan bagaimana Maleo bertelur dan terbang bebas, kita bisa menikmati sekitar 200 spesies burung yang ada di sana atau di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone. Anda bisa datang bersama keluarga di tengah hutan, di tengah alang-alang, menikmati air terjun, serta menikmati burung berterbangan kupu-kupu juga sangat banyak di sini," lanjut Hamim.


Melestarikan burung Maleo di Bone Bolango
(dok. Humas Bone Bolango)


Untuk mengembangkan ekowisata, kata Hamim, pihaknya akan kolaborasi dengan pihak taman nasional. Pihaknya akan menyiapkan villa-villa atau losmen kecil yang terbuka menyatu dengan alam. Pondok atau gubuk pengintaian.

"Mudah-mudahan dalam satu atau dua bulan ke depan kami akan memaksimalkan kolompok sadar wisata. Kita akan menjual kekayaan wisata kita yang ada di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone utamanya yang ada di kawasan Kabupaten Bone Bolango. Bisa dibayangkan orang Eropa atau Jepang yang terbang sangat jauh hanya untuk mendengarkan suara-suara burung hanya menyaksikan burung Maleo. siapa yang untung? masyarakat. Oleh itu kita tidak secara menjual potensi wisata tapi juga menjadi pelestari seluruh flora dan fauna yang ada di taman nasional," tutup Hamim. (adm/adm)









Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

Tidak ada komentar