Breaking News

Napi Wanita Lapas Tulungagung Lahirkan Bayi Laki-Laki Dan Bayinya Di Rawat Di Dalam Lapas


Napi Wanita Lapas Tulungagung Lahirkan Bayi Laki-Laki Dan Bayinya Di Rawat Di Dalam Lapas


Majalahberita24.com, Jakarta Seorang tahanan Polsek Kota Tulungagung yang dititipkan di Lapas Klas IIB Tulungagung melahirkan seorang bayi laki-laki. Kini ibu bayi berada di dalam penjara.

Raut muka bahagia bercampur sedih terpancar dari wajah Nur Laila (24) warga Desa Batokan, Kecamatan Ngantru yang menjadi tersangka pengedar sabu-sabu. Sambil menggendong bayi laki-laki yang baru dilahirkan 5 hari lalu, Nur Laila mengumbar senyum saat melihat paras sang buah hati.

Namun sesekali pandangannya tampak kosong seakan memikirkan beban berat atas proses hukum yang harus dijalani. Kamis lalu Nur Lalila dilarikan ke RSUD dr Iskak Tulungagung, lantaran perutnya terasa mulas sebagai pertanda akan melahirkan.

Dini hari itu juga sekitar pukul 01.00 WIB dia mendapatkan pertolongan medis. Setelah menunggu sekitar 2 jam bayi lelakinya lahir dengan selamat melalui persalinan normal.

"Terasa mulas jam 1 itu, jam tiga lahir, ini anak ketiga kami. Yang pertama usia 5,5 tahun sedangkan yang kedua usia 1 tahun 8 bulan," katanya saat ditemui detikcom di depan lorong Blok Wanita Lapas Klas IIB Tulungagung, Senin (27/5/2019).

Kelahiran anak ketiganya ini menjadi pengalaman tersendiri. Momen kebahagiaan yang seharusnya ia rasakan bersama suami dan kekuarga justru terenggut, lantaran harus menghuni jeruji besi karena terlibat peredaran narkoba jenis sabu-sabu.

Kesediahannya pun bertambah, karena suaminya Ulul Azmi juga tengah berada di dalam Rutan Kelas IIB Trenggalek dalam kasus yang serupa. Sang suami ditahan karena berusaha menyelundupkan paket sabu-sabu ke dalam rutan.

Nur Lalila pun kini harus pasrah atas jeratan hukum yang sedang dijalani. Meski demikian ibu rumah tangga ini akan tetap mengasuh anaknya di dalam lapas hingga usia dua tahun.

"Dia akan tetap sama saya, sampai dua tahun, akan saya kasih ASI eksklusif. Tadi pihak lapas dan orang tua juga mengizinkan," ujarnya.

Nur menceritakan, ia ditangkap polisi sepekan yang lalu saat hendak melakukan transaksi sabu-sabu dengan salah satu pembeli. Barang haram tersebut merupakan sisa dagangan milik suaminya yang sempat disimpan di rumah.


"Saat suami masuk itu katanya persalinan saya akan dibantu bosnya, tapi ternyata tidak. Kemudian ada yang bilang kalau sisa barang (sabu) dikembalikan, maka akan meringankan hukuman suami," imbuhnya.

Rencana pengembalian sabu kepada bos suaminya tersebut urung, sebab dia diminta untuk melayani penjualan salah seorang pembeli. Namun saat bertransaksi nasib apes menghampiri. Dia pun ditangkap Unit Reskrim Polsek Kota Tulungagung, beserta barang bukti sabu.

"Awalnya saya tidak tahu kalau suami masih menyimpan sisa barang itu, kemudian saya dikasih tahu. Ya karena mau melahirkan dan saya butuh biaya," jelasnya.

Kesediaan dan beban pikiran akibat proses hukum sempat ia sampaikan kepada wartawan. Namun di tengah perbincangan Nur tak kuat lagi berkata-kata, air matanya berderaian sambil meminta menghentikan perbincangan itu.

"Sudah bu," katanya kepada seorang petugas lapas.

Nur Lalila dan bayi mungilnya pun akhirnya dibawa masuk ke Blok Srikandi yang merupakan sel khusus tahanan dan narapidana wanita.

Sementara Kasi Binadik dan Giataja Lapas Tulungagung, Dedi Nugroho mengatakan pihaknya baru mendapatkan titipan tahanan perempuan tersebut pada Rabu (22/5) pekan lalu. Saat dibawa ke lapas kondisinya tengah hamil tua.

"Rabu dibawa ke sini, kemudian Kamis (23/5) melahirkan. Dia melahirkan di RSUD dr Iskak, kemudian perawatan dipindah ke RS Bhayangkara. Hari ini baru dibawa kembali ke lapas," katanya.

Dedi mengaku saat ini kondisi Nur dan bayinya cukup sehat. Nur akan menjalani hari-hari di sel wanita hingga kasus hukumnya selesai. Tidak ada perlakukan khusus bagi tersangka sabu-sabu tersebut, hanya saja pihaknya memberikan sedikit kelonggaran dengan ditempatkan di dalam sel yang jumlah penghuninya tidak banyak.

"Dia satu kamar kalau tidak salah hanya diisi tiga orang," imbuhnya.

Terkait keberadaan bayi Nur, pihak lapas mengaku memperbolehkan untuk dirawat di dalam penjara maksimal selama 2 tahun.

"Sebetulnya tidak harus dirawat di dalam lapas, misalkan diasuh keluarga boleh, akan tetapi yang bersangkutan memilih untuk mengasuh sendiri. Maka sesuai aturan maksimal sampai anak tersebut usia dua tahun, setelah itu harus diasuh keluarga," jelasnya.
(adm/aa)




-- Dikutip dari Detik.com




Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?





Tidak ada komentar