Breaking News

Ada Ancaman Baru, Misa Minggu di Gereja Katolik Sri Lanka Dibatalkan


Ada Ancaman Baru, Misa Minggu di Gereja Katolik Sri Lanka Dibatalkan

Majalahberita24.com, SriLanka Gereja Katolik Sri Lanka membatalkan rencana untuk menggelar kembali misa Minggu setelah rentetan bom saat perayaan Paskah yang menewaskan 257 orang. Penyebabnya karena ada 'ancaman serangan spesifik' terhadap sedikitnya dua gereja di Sri Lanka.

Seperti dilansir AFP, Kamis (2/5/2019), Uskup Agung Colombo, Kardinal Malcolm Ranjith, awalnya ingin menggelar kembali misa Minggu pada 5 Mei mendatang. Namun adanya informasi terbaru membuat keputusan itu dibatalkan.

Dengan kata lain, misa hari Minggu di gereja-gereja Katolik di Sri Lanka masih akan ditangguhkan hingga batas waktu yang belum ditentukan.

Sponsored Ad

Agen Judi Bola Terbaik Indonesia

"Atas saran dari otoritas keamanan, kami memutuskan untuk tidak menggelar misa hari Minggu di gereja manapun," ucap juru bicara Uskup Agung Colombo.

"Ada ancaman spesifik terhadap dua lokasi," imbuh juru bicara itu tanpa menjelaskan lebih lanjut.

Kardinal Ranjith pada Minggu (28/4) lalu, menggelar misa yang disiarkan langsung melalui televisi setempat. Cara ini dilakukan karena para jemaat diimbau untuk tidak datang ke gereja setelah misa ditangguhkan.

Pada Kamis (2/5) waktu setempat, otoritas Sri Lanka mengumumkan bahwa jumlah korban tewas akibat rentetan bom Paskah pada 21 April lalu telah bertambah menjadi 257 orang. Otoritas setempat memperingatkan bahwa jumlah korban tewas masih bisa bertambah.

"Korban tewas saat ini mencapai 257 orang," tutur Direktur Jenderal Departemen Kesehatan, Anil Jasinghe, kepada AFP. "Korban tewas perlahan bertambah karena ada beberapa kematian di rumah sakit. Ada beberapa potongan tubuh jadi mungkin sebenarnya lebih dari 257 orang," imbuhnya.


Jumlah korban tewas itu termasuk 40 warga negara asing. Sementara jumlah korban luka dilaporkan mencapai 496 orang, namun hanya tinggal 47 orang yang masih dirawat dengan 12 orang di antaranya menjalani perawatan intensif.

Sebagai antisipasi atas situasi yang masih rawan, petugas keamanan bersenjata disiagakan menjaga gereja-gereja setempat. Kardinal Ranjith bahkan mendapatkan pengawalan sejumlah pengawal dalam aktivitasnya.

Namun, Kardinal Ranjith mengembalikan limosin antipeluru yang diberikan pemerintah Sri Lanka kepadanya dan memilih tetap memakai mobil biasa. "Saya tidak takut. Saya tidak butuh kendaraan antipeluru. Tuhan adalah pelindung saya. Tapi saya ingin keamanan untuk rakyat dan untuk negara," ucapnya. (adm/aa)

-- Dikutip dari Detik.com

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?




Tidak ada komentar