Header Ads

Cerita Keluarga Lamusu, Pemilik Torpedo Peninggalan PD II


Cerita Keluarga Lamusu, Pemilik Torpedo Peninggalan PD II

Majalahberta24.com, Gorontalo Keluarga Lamusu di Kelurahan Tenda, Kecamatan Kota Timur, Kota Gorontalo, memiliki torpedo sirip ikan buatan Jepang yang digunakan saat Perang Dunia (PD) II.

Zulkifli Lamusu (59) adalah penerus penjaga torpedo berusia ratusan tahun tersebut. Ia mengatakan, torpedo itu menjadi bernilai bagi keluarganya, karena barang bersejarah itu merupakan peninggalan ayahnya.

Torpedo itu juga menjadi kenangan keluarga saat ayahnya menjadi Kapten Kapal K.M Sabut yang berlayar di perairan Sulawesi saat PD II.

"Benda ini pemberian dari seorang prajurit untuk ayah saya," katanya.

Pemberian torpedo itu bukan tanpa sebab. Menurut Zulkifli, orangtuanya yang bernama Abdulah Lamusu, saat itu membawa puluhan prajurit Indonesia untuk menyebrangi laut lepas daerah Kota Poso, Sulawesi Tengah.

Namun, Abdulah langsung putar arah lantaran mendapat perlawanan dari tentara Jepang. Mereka diserang dengan bom Nuklir, namun berhasil kabur dengan selamat, hingga kapal bersandar di dekat pulau.

Sponsored Ad

Agen Judi Bola Terbaik Indonesia

Cerita Keluarga Lamusu, Pemilik Torpedo Peninggalan PD II


Di pulau itu Abdulah mendapat cendramata dari seorang prajurit, atas jasanya yang berhasil menyelamatkan para penumpang kapal. Itulah mengapa torpedo itu menjadi kenangan berharga buat keluarga Lamusu.

Menurut Zulkifli, torpedo itu sempat dibawa ke Kota Makasar, saat pecah perang Permesta.

“Lalu saya kembalikan lagi ke Gorontalo," katanya.

Pernah juga Kodim 1304 Gorontalo meminjam torpedo sebagai pajangan. Seminggu setelah itu langsung dikembalikan.

Arkeolog Balai Pelestarian Cagar Budaya Gorontalo, Buhanis Ramina mengatakan, dari tekstur buatan yang bermode sirip ikan, tidak lain diduga buatan Jepang.

Torpedo juga sudah berusia lama dilihat dari teksturnya. Bahkan menurut Buhani, torpedo itu diduga digunakan sebelum kemerdekaan Indonesia.

“Ini milik Jepang. Karena Jepang paling jago buat karya dengan konsep sirip ikan. Karena sebagai cenderamata, jadi terpedo ini belum diisi oleh pasukan saat itu," terang Buhanis, saat melihat langsung terpedo yang terletak di depan rumah Zulkifli.

Buhanis juga menerangkan, jika keluarga Zulkifli memberi izin, maka torpedo itu akan diletakan di museum, agar bisa terpelihara dan menjadi bagian penelitian dari mahasiswa yang penasaran dengan barang antik tersebut.

“Karena memiliki nilai sejarah tersendiri bagi keluarga Zulkifli, jadi kami masih menunggu kesepakatan mereka untuk bagaimana barang tersebut bisa diletakan di museum. (adm/aa)

-- Dikutip dari kumparan.com

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.