Breaking News

AHY: Saya Harus Siap!


AHY: Saya Harus Siap!

Majalahberita24.com Jakarta Nama Agus Harimurti Yudhoyono semakin sering terdengar dalam tahun politik ini. Tugasnya bertambah berat. Dia bukan hanya mengurus Komando Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat. Kini bertambah lagi beban di pundaknya untuk memimpin pemenangan partai.

Sudah dua tahun pria akrab dengan panggilan AHY ini berkecimpung di dunia politik. Karirnya dimulai ketika ikut dalam Pilgub DKI Jakarta tahun 2017 lalu. Namanya muncul jelang penutupan pendaftaran.

Bikin heboh. Begitu rasanya mengingat bagaimana awal kemunculan AHY dalam panggung politik. Dia rela meninggalkan karir militernya di usia muda. Justru memilih politik sebagai jalan masa depannya.

Kematangan politik AHY semakin bertambah. Didukung dengan penampilan necis khas anak muda, suami Anisa Pohan itu kini sedang memegang mandat penting. Dia diminta Ketua Umum Partai Demokrat sekaligus ayahnya, Susilo Bambang Yudhoyono ( SBY), untuk memimpin kemenangan partai.

"Alhamdulillah, saya mendapatkan kepercayaan dari segenap jajaran kader Partai Demokrat untuk bisa memimpin perjuangan ini di masa yang genting," kata AHY dalam wawancara khusus dengan merdeka.com di Hotel Horison Bandung, Jumat pekan lalu.

Mandat itu diterima lantaran SBY belum bisa aktif terlibat dalam politik. Dia harus menjaga Ani Yudhoyono, istrinya. Sudah sejak Januari lalu, SBY berada di Singapura. Mendampingi sekaligus memberi semangat demi kesembuhan sang istri. Dunia politik presiden ke-6 itu sementara harus dihentikan.

Kini AHY sedang melakukan safari politik. Berkeliling selama 20 hari ke depan. Bertemu dan menyerap aspirasi masyarakat sambil sesekali mengampanyekan pasangan capres dan cawapres nomor urut 02, Prabowo Subianto- Sandiaga Uno.

Pada iklan baru Partai Demokrat, tegas akan menjaga NKRI. Sebenarnya bagaimana Partai Demokrat melakukan semua itu dengan posisi sebagai partai nasionalis religius?

Posisi Partai Demokrat tidak berubah. Sesuai dengan apa yang telah disepakati sejak berdiri tahun 2001, kita punya manifesto bahwa partai Demokrat partai nasionalis religius.

Tentu maknanya dalam. Boleh banyak partai lain punya ideologi yang serupa, tapi bagi saya tulisan dalam manifesto tersebut sesuai dengan yang diungkapkan. Bagi kami. Insha Allah, kami akan terus menjaga konsistensi itu. Bahwa Partai Demokrat akan meyakinkan NKRI akan tetap tegak, utuh. Jangan sampai kita terancam oleh faktor apapun. Baik dari dalam maupun luar.

Dan ini relevan dengan semakin kita. Akhir-akhir ini kita merasakan terjadinya polarisasi di tengah kita akibat perbedaan pandangan politik. Mengenaskan. Saya pernah cerita dengan teman-teman di Surabaya bahwa itu sudah sampai ke akar rumput.

Bukan hanya jadi perbincangan elit tapi sampai paling bawah dan diturunkan oleh anak-anaknya. Apalagi Kalau kemudian atas dasar SARA dll. Sulit sekali karena itu akan terbawa sampai emosional dan pada akhirnya kegiatan politik praktis di lapangan.

Kedua, menjaga dan merawat kebhinekaan. Ini mutlak karena bangsa kita memang heterogen. Makanya yang paling penting itu menjaga landasan, saling menghormati satu sama lain sehingga kita menjadi bangsa yang toleran.

Kita memang mayoritas Islam. Tapi, Islam kita membawa kedamaian dan bisa hidup dengan agama lainnya dan itulah kehebatan negara ini yang tidak dimiliki negara Timur Tengah, Afrika Utara, Amerika dll. Dan kita jangan sampai kehilangan itu.

Ketiga, menegakkan keadilan. Keadilan ini hakiki. Justice ini harus terus ditegakkan karena banyak negara hancur, banyak buku yang kita baca. Why nation fall? Misalnya itu menjelaskan bahwa banyak negara runtuh karena yang kuat dimenangkan yang lemah dikalahkan. Penegakan hukum yang tidak adil tebang pilih.

Saya harap ke depan Indonesia jadi tuan rumah yang besar sehingga kota nyaman dengan hak dan kewajiban masing-masing dan tentunya itulah hakikat yang sebenarnya bahwa kita diperlakukan hal yang sama. Tidak ada ketakutan untuk bebas berekspresi bersuara berorganisasi asal yang dalam koridor kita masing-masing sesuai dengan konstitusi.

Belakangan banyak yang bilang Indonesia sedang dilanda masalah intoleran. Menurut Anda bagaimana cara menekan atau permasalahan tersebut?

Memang tidak ada definisi yang mati untuk bicara toleransi, itu dikembalikan kepada konteksnya. Tergantung juga, ada yang bilang kok masalah toleransi, tapi ini kan kebebasan. Memang sangat dan bisa dinyatakan subjektif. Tapi di sini lah hadirnya negara, pemimpin, pemerintahan yang bijak untuk bisa mendudukkan masalah itu pada tempatnya dan bisa melihat dari berbagai potensi agar konsentrasinya tidak terpecah, tidak boleh diam dan in action tapi harus segera melakukan langkah-langkah tepat, bukan represif yang bisa menambah permasalahan, tapi cermat melihat isu tertentu.

Peran negara sangat penting, inilah yang kita lakukan. Strong leadership. Tapi juga dengan wisdom, penuh kebijaksanaan karena sentuhannya ini tidak menggunakan pikiran saja tapi pakai hati.

Jadi tidak boleh menyentuh logika tapi hati nurani, inilah pentingnya pemimpin yang bijak itu. Dengan demikian saya berharap kalau kita melihat, negara kita negara demokrasi ketiga terbesar di dunia mempraktikkan ini dengan luar biasa termasuk di media sosial harus ada pranata sosial hukum dan norma yang juga kita patuhi sehingga kita enggak kebablasan.

Jangan atas nama kebebasan kita seenaknya, menyebarkan berita palsu, hoax dsb, black campaign, pembunuhan karakter termasuk juga hate speech, hukum harus tetap kita tegakkan tapi juga tidak dengan pendekatan hukum. pendekatan sosial juga diperlukan bahkan seringkali lebih efektif daripada penegakan hukum secara keras.

Keadilan ekonomi penting, kita bukan negara yang sama rata dan sama rasa, kita juga menegaskan realitas kehidupan, kita harus bekerja keras dalam meningkatkan kesejahteraan untuk dirinya, kompetisi yang baik, tapi juga harus ada kepedulian negara biar ada intervensi terhadap warga kita yang masih sulit, dan itu amanah konstitusi.

Dan saya yakin, semua agama juga memerintahkan hal serupa bahwa bantulah saudara-saudara kita yang masih sulit hidupnya, itulah kemanusiaan kita, enggak bisa kita 'salah sendiri miskin enggak mau bekerja'.lho Siapa bilang? Nah itu akhirnya terjadi pertentangan terhadap kelas sosial, kita ingin semua makmur dan sejahtera bersama-sama.

Tolong dijelaskan, mengapa Anda menaruh perhatian besar dalam isu-isu internasional pada saat kondisi sebagian negara terjadi tren ultranasionalisme?

Saya mengamati, ada trend yang seolah-olah sejumlah negara-negara besar yang tidak sembarangan, yang seolah mundur, atau bisa dikatakan lebih mengedepankan kepentingan domestiknya.

Sebetulnya tidak ada yang menyalahkan karena pada akhirnya setiap negara akan memperjuangkan yang terbaik kepada rakyat, negara dan bangsanya. Makanya ada istilah, Amerika First, kata Donald Trump.

Kalau kita juga bisa bilang Indonesia first, kita meletakkan kepentingan nasional kita di atas segalanya. Tetapi, kita tidak boleh hanya berpikir indonesia sebagai satu entitas yang terlepas dari dunia internasional karena segala sesuatunya terkait.

Apalagi zaman sekarang dengan kemajuan teknologi kita seperti borderless dalam global, dan itu meniscayakan kita untuk juga memiliki hubungan yang baik dengan berbagai negara yang baik dengan dunia karena kemajuan negara ini tergantung bagaimana kita mengelola hubungan tersebut karena ini adalah urusan ekonomi, itu juga antar negara bisa bilateral atau dengan format yang lain lagi.

Kita juga sebagai negara besar, standing kita sudah semakin tinggi sebagai anggota di G-20 yang bisa dikatakan trully of the Asean. Nah, itu harus menunjukkan standing kita juga, bahwa kita juga tidak boleh ikut-ikutan tapi kita juga menjadi champions dalam berbagai isu dunia. Misalnya, global warming, perubahan iklim dunia, isu ekonomi termasuk kita aktif sebagai bagian dalam memelihara keamanan dan ketertiban dunia, Pasukan Garuda, saya sendiri pernah jadi bagian dari itu, Pasukan Garuda di timur tengah.

Peran-peran seperti ini yang diharapkan. Sehingga tidak hanya memedulikan kepentingan internalnya tapi juga menjadi responsible player di dunia yang terus membawa kebaikan dan kemajuan kesejahteraan bagi kawasan dan dunia.

Saya harus peduli karena saya memang menggemari urusan seperti ini, dan ini legacy SBY yang sayang kalau ini dibiarkan begitu aja. Banyak sekali diplomat, teman-teman terima dubes di kantor dan berkomunikasi dengan baik dengan mereka, mereka sebenarnya merindukan indonesia yang jadi strong partisipan dalam berbagai forum internasional di PBB, ASEAN, forum OKI, APEC dll. Karena negara kita besar. Kecuali negara kita kecil, enggak punya apa-apa, tidak dipandang, itu beda cerita.

Tapi kita ini nomor 4 di dunia secara penduduk, negara dengan populasi muslim terbesar di dunia dengan GDP kita yang dianggap memberikan pengaruh yang signifikan untuk kawasan kita.

Sponsored Ad

Agen Judi Bola Terbaik Indonesia

Jumlah pemilih muda makin banyak dan politisi sekarang banyak yang sudah senior. Bagaimana memandang perlunya regenerasi kepemimpinan?

Sebetulnya inilah yang jadi perhatian utama Partai Demokrat. Kami serius melakukan regenerasi, tapi kami lakukan secara natural tapi bukan tanpa percepatan juga. Kita harus terjadi secara natural karena regenerasi itu tidak bisa dipaksakan bukan karena melihat mudanya usia tapi belum siap secara kapasitas dan intelektualnya, pengalaman, leadership itu namanya memaksakan sesuatu yang belum siap.

Bung Hatta pernah bilang pemimpin besar atau pemimpin yang baik adalah dia yang menyediakan penggantinya. Dia yang menyiapkan generasi kepemimpinan yang berikutnya, itu pemimpin sejati.

Kalau memahami bahwa setiap pemimpin generasi punya masanya, setiap masa punya pemimpinnya, justru itu yang harus kita pahami bersama. Kesadaran diri bahwa yang sudah senior mempersiapkan siapa nanti setelah saya, kami dan itu harus disiapkan dengan baik, tidak bisa mengharapkan anak kita tumbuh dengan sendirinya, tumbuh dengan hebat tanpa memberikan jalannya. Persiapan itu termasuk dengan ujian dan tempaan, dengan penugasan.

Anak muda juga jangan cengeng. (merengek) Berikan kami kesempatan? Wrong!

Anak muda harus merebut kesempatan dengan cara-cara yang baik, konstitusional dan menghormati pemimpin sebelumnya, generasi pendahulu, senior-seniornya, itulah akan terjadi keberlanjutan tapi juga anak muda selalu membawa perubahan, inilah yang harus dipelihara, saya sendiri ingin jadi bagian dari itu.

Saya katakan bahwa di Partai Demokrat itu juga serius, kami juga semakin membangun sumber daya manusia (SDM) anak muda Partai Demokrat agar pada akhirnya siap jadi politisi yang andal baik sebagai caleg atau calon pemimpin eksekutif.

Saya optimis, tentu perlu kerja keras tapi ini juga harus saya tunjukkan bahwa anak muda itu enggak bisa tinggal diam, justru apatis terhadap proses politik dan itu yang terjadi sekarang, saya datang ke kampus-kampus, (mengajak) Ayo jangan golput, itu yang paling sederhana. Kedua, ayo mulai mengerti soal politik.

Memang seharusnya bagaimana melakukan regenerasi kepemimpinan politik yang sehat?

Kita juga tidak bisa menyalahkan masyarakat kita yang seolah-olah jenuh dengan situasi politik karena ini memang mereka melihat lagi-lagi ini lagi, dia lagi. Artinya negeri ini berhak punya alternatif lain yang lebih fresh juga dengan gagasan yang baik. Tapi sayangnya semua ini terkunci dengan presidential threshold harus 20 persen, pakai tiket 2014 lalu, Pemilu serentak, Pileg dan Pilpres.

Ini akhirnya menyudutkan partai manapun yang punya keinginan untuk menjadi alternatif dan sangat membatasi masyarakat dengan pilihan yang ada, akhirnya tidak sedikit masyarakat yang sebetulnya tidak cocok dengan yang ini dan yang itu dan membutuhkan somebody else yang sekarang tidak ada.

AHY: Saya Harus Siap!

Makanya yang perlu kita duduk lagi bareng, apakah ini akan diteruskan atau kita malah bertanya, bagaimana nasib demokrasi kita? Dan multi partai kita, apakah hanya akan menyisakan dua partai saja yang sangat mendominasi? Yang karena mendapatkan efek elektoral terbesar karena memiliki kandidat capres.

Lalu bagaimana dengan partai lain? Partai Demokrat bagaimana? Ini akan terus saya perjuangkan bahwa saya atau kita belum merasa Indonesia ini cocok atau siap dengan sistem seperti Amerika kalau demikian. (adm/aa)

-- Dikutip dari merdeka.com

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?


Tidak ada komentar