Breaking News

Kisah Pilu Taufik, Malaikat Kecil Penyelamat Turis Malaysia yang Jadi Tulang Punggung Keluarga


Taufik (7) saat berada di aula RSUP NTB menerima penghargaan  kehormatan sebagai pahlawan penyelamat WNA Malaysia, korban Longsor kawasan Wisata Tiu Kelep, Senaru Lombok Utara, Kamis (21/3/2019).

Majalahberita24.com, Lombok Utara Bocah Taufik menjadi buah bibir setelah turut berjasa dalam upaya evakuasi 22 wisatawan asal Malaysia dalam bencana longsor di kawasan wisata air terjun Tiu Kelep, Desa Senaru, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, Minggu (17/3/2019).

Bocah berusia 12 tahun ini (bukan 7 tahun seperti yang diberitakan sebelumnya) menuntun para wisatawan itu untuk keluar dari lokasi bencana saat kawasan wisata Tiu Kelep dihantam longsoran batu setelah gempa bermagnitudo 5,8 mengguncang.

Menjadi pemandu wisata atau guide cilik bukan pilihannya. Keadaan ekonomi keluarganya memaksa bocah penyandang tunarungu ini untuk menjadi tulang punggung keluarga dengan menghabiskan masa kanak-kanaknya memandu para wisatawan di Tiu Kelep.

Taufik dan keluarga hidup dalam keterbatasan dan kekurangan. Dia tinggal di gubuk sederhana bersama nenek dan tiga sepupunya.

Sponsored Ad

Agen Judi Bola Terbaik Indonesia

Taufik (kanan), bocah disabilitas penyelamat rombongan turis Malaysia yang menjadi korban longsor di air terjun Tie Kelep, Senaru, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, bersama nenek dan sepupunya.

Pada Sabtu (23/3/2019) sore, Taufik baru saja menjalani pemeriksaan di Rumah Sakit Umum Provinsi (RSUP) NTB. Dia diantar menggunakan ambulans menuju Desa Senaru, lokasi tempat tinggalnya.

Dia berbincang dengan para kru dan jurnalis yang turut serta hendak ke rumahnya dengan bahasa isyarat dipandu Renawadi, saudara sepupu Taufik atau kakak dari Tomi Albayani (14).

Tomi adalah salah satu sepupunya yang meninggal dunia karena tertimpa longsoran batu besar di Tiu Kelep bersama 2 wisatawan Malaysia lainnya, Tai Siew Kim dan Lim Sai Wah.

Sore itu, Taufik tampak sumringah. Dia membawa lima durian. Taufik mengaku tak sabar segera sampai rumahnya. Sesekali, dia menyesalkan hujan tak kunjung reda.

"Tadi dia beli (durian) sebelum tiba di Bayan. Dia suka berbagi. Semua orang mau dia kasih apa yang dia suka dan makan, perhatian orangnya.

Begitu turun dari ambulans, dia langsung menjumpai neneknya, Siranim. Dia lalu membuka durian kesukaannya bersama teman-teman sebayanya yang sudah berkumpul.

Tak banyak durian disantap Taufik. Dia malah memanggil siapa saja yang melintas untuk mencicipi durian yang dibawanya.

Dengan bahasa isyarat, Taufik mengungkapkan rasa bahagianya.

Kebiasaan yang selalu disukai warga dan kawan-kawan sebaya Taufik adalah kesukaan bocah ini berbagi apa saja yang dimilikinya kepada orang lain meskipun dengan bahasa isyarat.

Namun, semua orang di kampungnya memahami dan mengerti apa yang disampaikan Taufik meski tanpa kata-kata.

"Kita harus membahasakan dengan bahasa isyarat, apa pun itu. Taufik sama sekali tidak bisa mendengar. Dia lahir tanpa daun telinga, itu yang menyebabkan dia tak mendengar apa pun, dan jadi tidak bisa bicara.

Senaru, Kompas.Com Taufik, bocah disabilitas bersama neneknya, Rumeni (60) hidup dalam.kemiskinan di gubuk sederhananya di Desa Senaru, Bayan, Lombok Utara.

Tulang punggung keluarga 

Taufik bersama ketiga sepupunya diasuh oleh Siranim, sang nenek, sejak bayi. Mereka semua tak lagi tinggal dengan orangtuanya. Orangtua mereka ada yang bercerai, ada yang berburu rezeki ke Malaysia.

Kepala Dusun Lendang Cempaka, Senaru, Sarwan, mengatakan bahwa keluarga Taufik tergolong keluarga miskin.

Mereka menerima bantuan, seperti kartu sehat dan raskin, tetapi mereka tidak mendapatkan Program Keluarga Harapan (PKH) karena tak ada kepala keluarga.

"Kami terus mengupayakan mereka dapat PKH karena sepupu Taufik ada yang sudah bersekolah tetapi terdata di kartu keluarga bapaknya. Hanya saja dia tinggal di sini bersama neneknya" kata Sarwan.

Sarwan sendiri kerap memperhatikan keluarga ini mengingat Taufik sejak kecil tak dirawat kedua orangtuanya.

Taufik, lanjut dia, bekerja keras untuk membantu neneknya memenuhi kebutuhan sehari-hari, terlebih lagi sang kakek merantau ke Malaysia, kedua orangtuanya bercerai, dan tiga sepupunya bernasib sama, hidup tanpa kedua orangtua.

Namun, Sarwan tak sepakat bila Taufik disebut tulang punggung keluarga.

"Dibilang tulang punggung keluarga sih endak juga karena mereka mengandalkan kiriman dari kakeknya yang merantau di Malaysia. Tapi kalau ada rezeki yang didapat dari air terjun akan diberikan ke neneknya untuk membantu biaya makan minum.

Dia lalu menegaskan bahwa anak-anak di Desa Senaru tidak dipekerjakan menjadi guide atau pemandu wisata layaknya orang dewasa.

Mereka hanya mengisi waktu luang sepulang sekolah menjadi tenaga pengangkut barang untuk mendapatkan upah seikhlasnya. Beda dengan Taufik yang tidak bersekolah.

"Dia kan sama temen-temannya sebaya banyak juga, belasan orang. Sepulang sekolah rata-rata pergi ke air terjun, setelah pulang sekolah, bukan menjadi guide secara permanen. Kadang dikasih tip seikhlasnya dari tamu itu sendiri, bukan dipekerjakan. (adm/aa)

-- Dikutip dari kompas.com

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?



Tidak ada komentar