Breaking News

Alhamdulillah... 1 WNI di Arab Saudi Kembali Bebas dari Hukuman Pancung

Alhamdulillah... 1 WNI di Arab Saudi Kembali Bebas dari Hukuman Pancung

MajalahBerita24.com,Riyadh-- WNI bernama Nurkoyah binti Marsan Dasan, asal Karawang lolos dari hukuman mati di Pengadilan Provinsi Timur, Arab Saudi. Nurkoyah menyusul Sumiyati dan Masani yang sebelumnya juga terbebas dari hukuman pancung.

Duta Besar RI untuk Arab Saudi Agus Maftuh Abegebriel mengatakan Nurkoyah dituduh melakukan tindak pidana ghilah (pembunuhan dengan pemberatan), yaitu pembunuhan berencana terhadap anak majikan bernama Masyari bin Ahmad al-Busyail yang masih berusia 3 bulan. Nurkoyah dituduh sengaja mencampurkan obat tertentu dan racun tikus ke dalam botol susu untuk anak majikannya itu.

"Setelah melalui proses hukum yang panjang dan alot sejak ditangkap pada 9 Mei 2010, akhirnya 31 Mei 2018 Nurkoyah memperoleh kepastian bahwa putusan hakim yang menolak tuntutan qisas dan diyat terhadap dirinya telah berkekuatan hukum tetap dan dinyatakan selesai. Putusan tersebut ditandatangani hakim Muhammad Abdullah Al-Ajjajiy," kata Maftuh dalam keterangan tertulisnya kepada detikcom, Kamis (7/6/2018).

Menurut Maftuh, selama tahapan proses hukum itu, Nurkoyah mendapatkan pendampingan intensif dari KBRI Riyadh yang secara khusus memberikan bantuan hukum dengan menunjuk Pengacara Mishal Al-Sharif. Ini juga sebagai sikap memastikan kehadiran negara dalam melindungi WNI yang sedang mengalami masalah hukum.

"Proses hukum Nurkoyah berlangsung sangat lama dan pelik. Selama kurun waktu hampir 8 tahun, KBRI Riyadh dibantu pengacara terus memberikan pendampingan dan mengupayakan pembelaan maksimal terhadap Nurkoyah. Dalam persidangan, Hakim menolak had ghilah (hukuman mati) dan memutuskan ta'zir dengan hukuman kurungan 6 tahun penjara serta cambuk 500 kali, karena didasarkan adanya pengakuan dari Nurkoyah pada saat penyidikan walaupun pengakuan tersebut kemudian dicabut oleh Nurkoyah karena dilakukan di bawah tekanan," jelas Maftuh.

Maftuh melanjutkan, majikan bernama Khalid Al-Busyail kemudian mengajukan tuntutan qisas (hukuman mati) terhadap Nurkoyah. Hakim Pengadilan Umum Dammam menolak tuntutan hukuman mati qisas dengan menggunakan pembuktian sumpah (yamin), karena Nurkoyah mengingkari tuduhan dan penuntut hak khusus yaitu majikan tidak mampu menghadirkan bukti-bukti lain yang menguatkan tuntutan tersebut.

"Setelah tuntutan qisas terhadap dirinya ditolak oleh Pengadilan, Nurkoyah mendapatkan secercah harapan untuk dibebaskan dan segera pulang menemui keluarganya di Karawang, Jawa Barat, terutama Ibunya yang kesehatannya sudah menurun. KBRI Riyadh pun langsung mengambil langkah-langkah untuk pemulangan Nurkoyah," kata Maftuh.

Namun, kata Maftuh, asa dan kesempatan bertemu keluarga di tanah air terpaksa ditunda dan nyaris buyar karena Nurkoyah harus kembali berurusan dengan proses hukum. Ini karena majikannya, Khalid Al-Busyail, kembali mengajukan tuntutan diyat (tebusan) atas tuduhan telah lalai sehingga anak kandungnya meninggal dunia.

Dikatakan Maftuh, KBRI Riyadh dibantu pengacara Mishal Al-Sharif kembali melakukan pendampingan hukum bagi Nurkoyah. Pada tanggal 3 April 2018, Tim KBRI Riyadh dan Mishal Al-Sharif mendampingi Nurkoyah dalam persidangan di mana Hakim menolak tuntutan hak khusus diyat dari majikan, atas dasar 'ne bis in idem' atau prinsip hukum yang melarang terdakwa diadili lebih dari satu kali atas satu perbuatan yang sama apabila sudah ada keputusan yang menghukum atau membebaskannya.

"Hakim memberikan kesempatan bagi majikan dalam tenggat waktu 30 hari untuk mengajukan i'tiradh (expostulation/keberatan) atas putusan tersebut. Namun sampai tenggang waktu terlampaui, majikan tidak mengajukan i'tiradh, sehingga pada 31 Mei 2018 Pengadilan Umum menetapkan bahwa putusan hukum atas kasus Nurkoyah telah berkekuatan hukum tetap (inkracht). Tanggal 2 Juni 2018 KBRI Riyadh secara resmi menerima salinan putusan Pengadilan Umum Dammam atas kasus Nurkoyah," jelasnya.

Maftuh menambahkan, KBRI Riyadh kemudian menindaklanjuti putusan tersebut dengan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk proses pemulangan Nurkoyah ke Indonesia. KBRI Riyadh telah berkomunikasi dengan pengacara.

Selain itu, pada 4 dan 5 Juni 2018, KBRI Riyadh juga berkunjung ke Penjara Dammam tempat Nurkoyah ditahan untuk berkoordinasi serta menyerahkan dokumen-dokumen yang diperlukan bagi penerbitan exit permit pemulangan Nurkoyah.

"KBRI Riyadh juga berbicara langsung dengan Nurkoyah untuk menyampaikan kabar gembira tersebut sekaligus memantau kondisi Nurkoyah di penjara. Nurkoyah akan dipulangkan ke Indonesia segera setelah exit permit dan dokumen-dokumen lain selesai diterbitkan," jelas Maftuh.


– Dikutip dari DETIK.COM

Tidak ada komentar